Maunya Moderat, Malah Ambyar!

Hari ini, fundamentalisme dan radikalisme sudah jadi stempel bagi siapapun yg tidak mau memilih menjadi muslim moderat. Masalahnya, istilah moderat versi musuh Islam bukanlah moderat versi Al-Quran yaitu ‘ummatan washatan’ (umat pertengahan), namun istilah moderat kini diklaim dgn definisi ala liberal, anti-Islam.

Di satu situs anti-Islam, kata moderat berarti: tidak anti bangsa semit, anti-khilafah, kritis thd Islam, Nabi bukan contoh yg layak ditiru, pro-kesetaraan gender, anti-jihad, pro-kebebasan beragama, netral thd zionis, tidak marah saat Islam dikritik, anti-fashion Islami, dan pro-humanisme universal.

Sedangkn moderat versi Barat, menurut Graham Fuller adalah menolak literalisme dlm memahami kitab suci, tidak boleh ada monopoli penafasiran Islam, persamaan dgn agama lain, dan tidak menolak kebenaran agama lain. Lebih konyol lagi, Ariel Cohen mengatakan, moderat itu bebas menyembah Allah dengan cara sendiri.

Sekarang definisi2 itu didoktrinkan kepada masyarakat awam diseluruh dunia untuk membuat dikotomi: “Kalo kamu gak bolehin orang ngkritik syariat Islam, maka kamu radikal!”, “Kalo kamu gak mengakui agama2 lain benar, maka kamu fundamentalis!”, “Kalau kamu gak bolehin orang lain menafsiri isi Al-Quran terserah dia, maka kamu puritan fasis!” Padahal apa yang terjadi jika kita mengkritik syariat Allah? Apa yang terjadi jika kita mengakui kebenaran agama lain? Apa yang terjadi kalau Al-Quran boleh ditafsiri bebas? Kamu bisa jawab sendiri.

Kata “wasathan” dalam Bahasa Arab dapat diartikan dgn beberapa makna: adil, seimbang, pertengahan (moderat), dan terbaik (pilihan). Di Al-Baqarah ayat 143 dgn jelas menerangkan umat Muslim sebagaimana dikehendaki Allah Swt, yaitu menjadi umat yg moderat, seimbang, adil, tapi tetap dalam koridor syariat, sehingga mereka mampu menjadi saksi atau teladan bagi umat lain. Bukan loss ambyar kayak liberal.

Jika faham moderat ala liberal muncul sebagai respon terhadap kelompok “ekstrimis muslim” yang suka menzhalimi orang lain, maka itu sama saja “kesesatan dilawan dengan kesesatan”. Dua2nya sama2 salah.

Kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “Untuk mengalahkan bayang-bayang fundamentalisme tidak perlu liberalism. Dan agar menang melawan hegemoni kolonialisme Barat tidak perlu ekstremisme.” Maka tetaplah menjadi moderat dalam definisi yang semestinya. Nggak dilebih-lebihkan, nggak dikurang-kurangi.*()

instagram : @adityaabdurrahman

Benarkah Slogan “Humanity Above Religion”?

Oleh: @adityaabdurrahman

Slogan tersebut akhir2 ini cukup mengusik saya. Bagaimana mungkin kemanusiaan bisa diberikan tempat yg lebih tinggi dari agama?

Mungkin boleh2 saja kalau mereka yg menggunakan slogan ini bukan muslim. Karena itu urusan internal agama lain. Tapi kalau seorang muslim ikut menggunakan slogan ini, saya pikir pemahamannya perlu diluruskan.

Dr. Zakir Naik pernah ditanya tentang hal ini. Mana yg harus didahulukan, kemanusiaan, ataukah agama? Jawab beliau simple. “Jika saya (sebagai muslim) yang ditanya, maka saya akan jawab bahwa Islam yg lebih utama. Karena Islam telah meliputi kemanusiaan. Karena dalam Islam, seluruh aspek kemanusiaan dibahas didalamnya. Tidak ada satupun aspek dalam ajaran Islam yg bertentangan dgn kemanusiaan secara keseluruhan.”

Namun demikian, sebagian orang ada yg mengatakan bahwa slogan ini adalah untuk menyindir orang2 yg berbuat kejahatan kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama. Mereka menganggap bahwa orang yg fanatik dalam beragama akan cenderung melakukan hal2 yg menguntungkan diri/ kelompoknya sendiri, tanpa peduli dengan orang lain. Agama dijadikan tameng untuk melakukan perbuatan apapun seenaknya sendiri.

Tanggapan saya, seandainya orang tsb muslim dan pemahaman keislamannya benar, tidak mungkin dia membahayakan bagi kemanusiaan. Jika ada muslim yg merugikan bagi kemanusiaan, maka dia bukanlah muslim sejati!

Akmal Sjafril #ITJ mengatakan “jika kemanusiaan itu ada diatas agama, maka agama apa yg mau kita pakai sebagai standar kemanusiaan? Atau standar kemanusiaan versi siapakah yg akan kita pakai?” Krn ini akan jadi masalah ketika standar kemanusiaan itu bertentangan dengan versi Allah.

Perlu kita sadari bahwa akhir2 ini orang2 sekuler berusaha menanamkan kepada dunia bahwa jadi orang baik itu nggak perlu beragama. Karena menurut mereka baik dan buruk itu bisa dibentuk oleh empati, bukan oleh agama. Dari pemikiran itu lahir statement2 menyesatkan seperti “Gapapa minum alkohol, yang penting kamu nggak ganggu orang lain”, “Gapapa jadi pezina, yang penting suka menolong”, atau “Pilih mana, pemimpin muslim tapi korupsi atau pemimpin kafir tapi jujur dan baik?”

Padahal dalam Islam jelas dan tegas. Kebaikan itu bukan cuma dinilai dari sisi seseorang itu tidak mengganggu orang lain, tapi dia juga wajib meninggalkan khamr. Kebaikan itu bukan cuma karena suka menolong, tapi juga harus meninggalkan zina. Sebagaimana pemimpin yang baik dalam Islam adalah yg muslim dan yg jujur. Namun opsi itu tidak dihadirkan sebagai alternatif.

Selamat datang di zaman fitnah. Ketika kebenaran semakin dikaburkan oleh kaki tangan Dajjal. Nabi Saw menyebutnya dengan istilah Fitnah Duhaima’. Sebagaimana pesan Nabi Saw, yg selamat di zaman fitnah ini hanyalah mereka yg menggenggam erat Al-Quran dan As-Sunnah. Jika tidak, sulit bagi manusia bisa selamat darinya. Paginya beriman, sorenya bisa kafir. Sorenya beriman, paginya bisa kafir. Naudzubillah.*()

Antara Punk, Anarkisme dan Yahudi (Lagi)

Sejarah punk di Amrik gak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran Yahudi di negeri itu.

oleh: @adityaabdurrahman

Saya orangnya emang suka kepo. Saat isu-isu penindasan di Palestina sedang booming, saya suka stalking akun2 pentolan2 band-band punk di Barat yang biasa teriak2 anti penindasan. Pengen tahu aja, apakah mereka juga bersikap obyektif terhadap isu yang melibatkan kaum Yahudi disana.

Saya intip akun pentolan CRASS, Steve Ignorant, gak ada postingan ttg Palestine sama sekali. Saya intip pentolan Dead Kennedys, Jello Biafra, gak ada postingan apa2 juga. Eh iya, saya baru inget kalo doi malah justru pernah berencana manggung ke Israel, tapi batal gara2 banyak diprotes para aktivis pro-Palestina. Setelah itu Jello malah travelling sendiri ke Tel Aviv dan mengomentari bahwa dia nggak pro-pro amat sama isu boikot Israel.

Million Dead Cops (MDC) juga ga bahas Palestine, Bad Religion yang sok anti-otoritas juga nggak bahas Palestine, Total Chaos yang sok anti-fasis juga diem2 aja soal Palestine, atau yang populer seperti Tim-Lars-Matt Rancid pun gak bahas Palestine.

Satu doang nemu yang bahas Palestine yaitu Anti-Flag. Lumayan lah ada satu. Gatau kemana band-band punk yang lain yang suka teriak2 anti-fasisme.

Saya juga pernah kepo sama siapa sebenernya profil para pencetus pemikiran anarkisme didunia ini, yang mana Anarkisme sering dijadikan pemikiran “fardhu ain” bagi para punk didunia. Saya kepo dan cari tau, krn siapa tau mereka ada hubungannya juga sama nenek moyang zionisme didunia ini.

Ternyata benar dugaan saya. Cobalah buka biografi tokoh-tokoh anarkis dunia seperti Alexander Berkman, Emma Goldman, Voline. Kalian akan menemukan bahwa latar belakang orang-orang tersebut dilahirkan berdarah Yahudi dan dididik di keluarga Yahudi pula. Bahkan dalam sebuah literatur anarkis disebutkan bahwa secara signifikan Yahudi akan selalu memiliki peran yang besar dalam pergerakan anarkisme selama pemikiran yang dibawa Alexander Berkman, Emma Goldman dan Voline tidak punah.

Jika ada yang menentang infiltrasi Yahudi kedalam pemikiran anarkisme pasti akan ditentang habis-habisan. Jangankan saya yang cuma PERNAH mengaku anarkis, orang sekelas pemikir anarkis dunia seperti Mikhail Bakunin pun pernah ditentang habis-habisan dan sempat dicap anti-semit gara-gara menentang eksploitasi global yang dilakukan bangsa Yahudi.Jadi jelaslah sekarang. Punk ini, baik dari sudut sub-budayanya, maupun dari sudut pemikirannya, semua ujung-ujungnya Yahudi lagi.

“Berarti kamu rasis ke orang yahudi dong??!”

Mungkin ada yang bilang gitu.

Jawab saya: Jangan playing victim! Islam nggak pernah ngajari rasis kepada umatnya. Baca sejarah bagaimana kekhilafahan Islam menaungi umat Yahudi dan Nasrani dengan damai, aman dan tentram selama ratusan tahun lamanya. Justru sejak Yahudi datang ke Palestina lah yang jadi akar rasisme thd ras Arab disana!*()

Follow IG @adityaabdurrahman

Kampus Islami, Rasa Kampus Sekuler

SUBCHAOSZINE–Suatu hari ada seorang mahasiswa menghubungi saya, katanya ingin meneliti tentang komunitas Punk Muslim. Dia memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam, bukan perguruan tinggi sekuler. Saya belum menyetujui dia meneliti Punk Muslim, sebelum saya membaca isi dari latar belakang penelitiannya.

Akhirnya saya ajak dia ketemuan. Di Kampus tempat saya ngajar. Saya baca proposalnya. Dan saya melihat, tidak ada satupun kutipan dari ayat Al-Quran, Hadits, maupun pendapat para ulama tentang penelitian yang mau dia bikin itu. Semuanya ngutip teori-teori Barat.

Lalu saya bilang, “kamu dari kampus islami tapi kok nggak pakai sumber-sumber yang islami sih? Malah ini isinya teori2 Barat semua. Trus apa bedanya kamu kuliah di kampus Islami dengan kamu kuliah di kampus sekuler?”

Lalu kemudian saya minta dia merevisi proposal skripsinya, kalau masih ingin menjadi Punk Muslim sebagai objek penelitian. Biar dia mikir, bahwa kaum muslimin harus punya izzah atau pride terhadap tradisi keilmuannya sendiri. Jangan cuma ngekor ke Barat, udah gitu menggunakan kami (punk muslim ) sebagai obyek penelitian. Enak aja, saya nggak sudi!

Alhasil, saya tunggu sampai saat ini dia nggak balik ke saya lagi. Hehehe…

Mungkin dia mikir, “busyet dah, ini dosen luar kampus ternyata lebih rewel dari dosen saya sendiri!”*[]

Menyikapi Modernisme Barat

SUBCHAOSZINE–Banyak para cendekiawan muslim di masa lalu yang menulis buku2 tentang sikap umat Islam terhadap dunia modern. Salah satunya Muhammad Asad, seorang yahudi yang masuk Islam dan menjadi pemikir Islam yang hebat.

Menurut Asad, dalam bukunya Islam At The Crossroad (Islam di Persimpangan Jalan) yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengatakan bahwa yang dikhawatirkan dari umat Islam dalam menyikapi modernisme adalah “IMITATION” alias meniru atau mengimitasi seluruh pemikiran, cara pandang, dan gaya hidup Barat.

Karena, menurut saya, kalau itu terjadi, maka berarti sudah tidak ada izzah (harga diri) bagi kaum muslimin terhadap agamanya sendiri sehingga begitu silaunya mereka dengan peradaban Barat.
Kedua, berarti terjadi pembaratan dunia Islam, yang mana umat ini akan condong pada pemikiran sesat sekulerisme dan liberalisme.

Mungkin inilah yang disebut fitnah akhir zaman, yaitu fitnah Duhaima’. Fitnah yang membuat kita kafir tanpa kita sadari karena banyaknya aliran dan pemikiran penyimpang.

Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah itu. Aamiin.

Buku Terbaru Saya, “Aku (Pernah) Punk”

SUBCHAOSZINE–Alhamdulillah akhirnya keluar juga buku yang bisa jadi medium saya menceritakan bagaimana asal muasal saya kenal punk sampai saya berhijrah ke Islam hingga saat ini. Buku ini ditulis salah satunya untuk menjelaskan pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya setiap ada forum testimoni hijrah.

Buku ini ditulis saat saya senggang. Ada waktu luang. Iseng, dan nggak terlalu serius. Makanya saya menulisnya seperti saya sedang ngobrol dengan seseorang didepan saya. Nggak berharap ada orang yang nulis otobiografi saya, makanya saya sendirilah yang nulis tentang diri saya sendiri. Hehe.

Yang menjadi motivasi saya hanyalah, hikmah-hikmah dari setiap kejadian yang pernah saya alami adalah hal yang berharga. Bukan hanya berharga untuk diri saya sendiri, keluarga saya, tapi juga berharga untuk disampaikan kepada teman-teman yang selama ini ada di lingkungan saya. Baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Seorang muslim diberikan kepekaan terhadap hikmah. Setiap kejadian, harus selalu bisa mengambil pelajaran darinya. Maka buku ini ditulis untuk dikita bisa berbagi hikmah yang kita dapatkan dalam kehidupan kita. Mungkin teman-teman punya lebih banyak kisah dibandingkan dengan saya. Tapi semoga buku ini bisa memicu munculnya buku-buku baru lainnya, yang menceritakan kisah hidupnya sehingga kita bisa saling mendapatkan hikmah dari kisah kisah tersebut.

Diterbitkan sendiri. Harganya hanya 35.000,- saja. Ada diskon khusus untuk pemesanan sampai 31 Oktober 2017. Juga ada diskon khusus bagi pemilik buku saya sebelumnya, MELAWAN ARUS.

Silakan menghubungi Muslim Unite Store dengan akun IG @muslim.unite.store

Sekian.

Kami Bukan Objek Berita

SUBCHAOSZINE–Sudah puluhan kali kami dihubungi oleh wartawan media massa. Sepertinya mereka seperti sedang menemukan mangsa baru untuk dijadikan objek berita yang mampu menarik oplah atau rating medianya. Mereka menghubungi dengan penuh optimisme, bahwa kami bakal mau menceritakan semuanya tentang Punk Muslim. Mereka kira kami disini sedang cari sensasi sehingga mereka merasa datang disaat yang tepat.

Namun kami justru menjawab tawaran mereka dengan satu kata: TIDAK!

Mereka mungkin bingung, kenapa kok gitu. Karena jelas mereka nggak nyangka kok ada komunitas pemuda yang nggak suka dipublikasi media massa. Sering kali kami menjelaskan alasan kami secara sederhana. Bahwa kami anti dengan media mainstream. Kami memiliki sikap seperti ini karena dulu kami pernah tertipu dengan tawaran-tawaran mereka. Sudah menjadi langganan jika ada suatu media menulis tentang kami namun hasil tulisannya berbeda dengan apa yang kami sampaikan.

Mainstream media sucks! Kami hanya akan percaya dengan media-media muslim yang jelas-jelas orientasinya adalah dakwah dan kepentingan umat Islam.

Bukan hanya sebagai seorang muslim, sebagai seorang punk pun seharusnya kalian punya sikap yang tegas terhadap media mainstream. Jangan cuma memaki media pada saat mencitraburukkan anarkisme, tapi percaya dan taat media saat mencitrakan buruk terhadap Islam. Ini standar ganda buat sebagian punk yang sampai hari ini masih phobia sama Islam.

Sekian.

@adityaabdurrahman

Scene Punk, Anarkisme dan Infiltrasi Yahudi

SUBCHAOSZINE–Puluhan tahun saya aktif di scene punk di Indonesia belum banyak melihat perlawanan yang serius dari punks kepada kejahatan-kejahatan bangsa Yahudi. Konflik Palestina-Israel hanya dipandang sebelah mata. Seolah itu hanya konflik biasa antara dua kubu yang sama-sama serakah. Anehnya, ketika meneriakkan slogan-slogan perlawanan terhadap Nazi, mereka justru bersemangat. Anarkisme yang seharusnya sangat sensitif dan radikal dalam menentang ketidak-adilan, dalam masalah-masalah yang terkait kekejaman bangsa Yahudi, para pemikir anarkis cuma santai-santai saja. Sebaliknya, ketika saya menulis dalam zine-zine untuk menentang Israel justru mereka menuduh saya sebagai fasis dan rasis. Ada apa ini? Nah, setelah puluhan tahun bertanya-tanya kini akhirnya terjawab. Bahwa ternyata ini juga bagian dari proyek penyesatan opini yang dilakukan bangsa Yahudi yang (sebenarnya) fasis dan rasis itu.

Pertama, tahukah bahwa ternyata betapa banyak keturunan Yahudi yang tersebar menjadi motor dalam band-band punk kaliber dunia? Coba sesekali bukalah wikipedia kemudian cari biografi dari musisi punk yang kamu sukai. Mayoritas dari mereka adalah bangsa Yahudi. Dalam buku karangan Steven Lee Beeber yang berjudul “The Heebie-Jeebies at CBGB’s” menuliskan bahwa punk di kota New York adalah sebuah pergerakan yang dimotori oleh pemuda-pemudi keturunan Yahudi dari keluarga kelas menengah. Dedengkot-dedengkot legendaris punk seperti Lou Reed, Joey Ramone, Tommy Ramone, Suicide’s Martin Rev and Alan Vega, Jonathan Richman, Lenny Kaye (gitaris Patti Smith), Richard Hell, chris Stein-nya Blondie, sampai pendiri CBGB sendiri Hilly Kristal, semuanya adalah Yahudi tulen! Seradikal apapun ideologi punk yang mereka anut, tetap saja mereka memiliki loyalitas yang sangat tinggi kepada bangsanya sendiri: Yahudi.

Menurut buku Beeber pula, dijelaskan bahwa sejarah kemunculan punk dari keturunan Yahudi adalah setelah era tragedi Holocaust, yaitu pembantaian terhadap etnis Yahudi oleh tentara Nazi. Inilah mengapa banyak punk yang meneriakkan anti-Nazi dalam lirik-lirik lagu mereka. Padahal kebenaran pembantaian Holocaust sendiri penuh dengan manipulasi yang dilakukan oleh Yahudi sendiri. Mulai jumlah korban dari pihak Yahudi sampai bentuk-bentuk kekejaman yang dilakukan Nazi kepada mereka sampai saat ini masih belum terbukti secara akurat. Nah, anehnya, di Indonesia banyak band-band punk ikut-ikutan meneriakkan anti-Nazi meskipun mereka bukan Yahudi. Anti-Nazi jauh lebih populer dikalangan punk, padahal yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina jauh lebih sadis dibandingkan dengan apa yang dilakukan Nazi kepada bangsa Yahudi.

Kedua, cobalah buka biografi tokoh-tokoh anarkis seperti Alexander Berkman, Emma Goldman, Voline. Kalian akan menemukan bahwa latar belakang orang-orang tersebut dilahirkan berdarah Yahudi dan dididik di keluarga Yahudi pula. Bahkan dalam sebuah literatur anarkis disebutkan bahwa secara signifikan Yahudi akan selalu memiliki peran yang besar dalam pergerakan anarkisme selama pemikiran yang dibawa Alexander Berkman, Emma Goldman dan Voline tidak punah.

Jika ada yang menentang infiltrasi Yahudi kedalam pemikiran anarkisme pasti akan ditentang habis-habisan. Jangankan saya yang cuma PERNAH mengaku anarkis, orang sekelas pemikir anarkis dunia seperti Mikhail Bakunin pun pernah ditentang habis-habisan dan sempat dicap anti-semit gara-gara menentang eksploitasi global yang dilakukan bangsa Yahudi.

Tulisan ini tidak kemudian membuktikan bahwa saya selalu berprasangka buruk terhadap semua orang keturunan Yahudi. Karena diluar sana juga banyak orang keturunan Yahudi yang “menyimpang” dari doktrin-doktrin agama mereka kemudian menemukan jalan yang lurus, seperti misalnya Maryam Jameela atau Leopold Weiss yang berasal dari keluarga Rabbi Yahudi ortodox. Buku-buku dan pemikiran kedua orang Yahudi tersebut sampai sekarang masih menginspirasi saya. Selain itu kita memang wajib berbuat adil, sebagaimana tidak diperbolehkan untuk membenci etnis atau bangsa tertentu dalam agama apapun (kecuali dalam doktrin agama Yahudi).*[]

(tulisan ini pernah diterbitkan dalam SUB CHAOS ZINE 14)

Oleh: Aik

Jauh Melampaui Straight Edge

SUBCHAOSZINE–Saya mengenal straight edge sejak saya mengenal Minor Threat sekitar tahun 1997-an. Saya merasa gaya hidup itu keren, karena disaat kebanyakan orang memberikan stigma negatif terhadap hardcore punk sebagai subkultur yang identik dengan alkohol, rokok, seks bebas, dan narkotika, di dalam straight edge justru saya mengenal kebalikannya: sebuah subkultur hardcore punk yang bersih, terbebas dari hal-hal negatif tadi.

Tapi jujur, saya nggak terlalu sulit untuk menjalankan gaya hidup straight edge ketika itu. Karena sejak kecil, orang tua saya sudah cukup banyak mendidik saya agar menjadi seorang muslim. Iya, saya seorang muslim, yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga muslim pula. Menurut saya dulu, nggak terlalu sulit menjalankan straight edge, karena dalam agama kami sudah melarang alkohol, zina, rokok dan narkotika. Jadi saya sejak itu menyatakan diri sebagai penganut gaya hidup straight edge, yang sebenarnya kondisinya nggak terlalu jauh beda dengan sebelum saya memakai label itu.

Tapi saat itu saya merasa lebih keren. Lebih bangga. Lebih pede ketika datang ke gigs-gigs dan manggung, sambil memakai tanda “X” di punggung kepalan tangan kanan dan kiri. Nggak ada yang mencemooh. Nggak ada yang nyinyir melihat saya seperti itu. Sebagian besar teman-teman justru respek kalau ada yang benar-benar serius menjalani straight edge.

Namun hari demi hari saya semakin tertarik untuk mengkaji tentang straight edge. Semakin lama semakin berkembang dan semakin radikal. Kemudian beberapa musisi hardcore punk memadukan gaya hidup ini dengan agama-agama tertentu yang mereka anut. Lalu muncul-lah Hare Khrisna atau Khrisna-core, Christian-core, bahkan sampai ada yang mendeklarasikan Muslim-core. Pada intinya, mereka memadukan gaya hidup positif tersebut dengan ajaran-ajaran agama yang sama-sama mengajak untuk menjadi pribadi yang positif.

Disinilah pintu saya kemudian jadi lebih tertarik mendalami agama saya sendiri. Agama Islam. Sebuah agama yang sebenarnya sudah saya anut sejak saya kecil. Saya belajar tentang Islam lebih dalam tentang makna keikhlasan dalam beraktivitas. Terlebih dalam menjalani suatu pekerjaan. Kalau setiap aktivitas kita diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah Swt, maka aktivitas itu akan bernilai pahala.

Kemudian saya jadi lebih tahu bagaimana caranya mendapatkan keridhaan Allah Swt dalam aktivitas-aktivitas kita. Termasuk bagaimana cara agar aktivitas kita itu bisa mendatangkan pahala, balasan positif dari Allah Swt.

Pertama, aktivitas itu harus didasari dengan anggapan bahwa kita melakukan itu semata-mata karena Allah Swt yang memerintahkan kita untuk melakukannya. Bukan karena motif lain selain itu. Kalau melakukan sesuatu cuma karena kelihatan keren, itu berarti belum bener. Maka melakukan sesuatu yang benar adalah ketika kita melakukannya karena Allah Swt yang memerintahkannya.

Kedua, jika kita ingin melakukan suatu perbuatan, baik yang berupa keyakinan maupun ritual fisik, semuanya wajib didasarkan kepada apa yang sudah dicontohkan Rasulullah Saw. Kalau beliau saw mencontohkan atau mempraktekkan, maka kita ngikut. Kalau enggak, maka jangan bikin-bikin yang baru. Karena syaratnya agar amal kita diterima adalah harus sesuai dengan apa yang sudah dicontohkan Nabi Saw. Misal, para penganut straight edge biasanya menolak seluruh makanan yang berasal dari hewan. Mereka hanya mau memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian/vegan). Nah, hal ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan dalam beberapa ayat Al-Quran dan Hadits memerintahkan kita untuk memakan daging sembelihan hewan yang halal. Kalau nggak makan daging hanya karena alasan ingin jadi seorang straight edge militan, itu nggak dibenarkan dalam Islam. Yang boleh menjadi vegan hanya orang-orang yang secara khusus memiliki penyakit yang memang mewajibkan mereka hanya makan tumbuh-tumbuhan saja. Nah, kalo itu pengecualian.

Alhamdulillah, setelah paham dengan hal poin-poin diatas, saya jadi optimis untuk meninggalkan straight edge dan beralih secara totalitas ke ajaran Islam saja. Meskipun nggak terlalu signifikan juga bedanya. Saya tetap anti rokok, anti alkohol, anti zina, dan anti narkoba seperti saat saya masih straight edge, namun kali ini saya jauh lebih pede dan merasa lebih nyaman dengan niat dan motivasi yang baru. Saya sadar bahwa resep ini sudah ada sejak 1400 tahun sebelum Ian MacKaye bicara soal straight edge. Resep lama yang tidak pernah saya perhatikan.

Saya merasa menjadi muslim secara totalitas bisa jauh melampaui kehebatan straght edge, karena saya yakin bahwa setiap perintah dan larangan dalam Islam pasti memiliki hikmah yang luar biasa. Selain Allah Swt akan mencatat aktivitas kita sebagai aktivitas berpahala, ada hikmah-hikmah yang mungkin hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki iman di hatinya. Selamanya orang-orang diluar Islam nggak akan paham apa yang saya rasakan ini. Tapi tidak mengapa. Karena iman nggak bisa dipaksakan. *[]

Oleh: Aik

“Ini Scene Kami Juga!”, Sebuah Bukti Kegagalan Punk Menerapkan Kesetaraan Gender Didalam Scene-nya Sendiri

SUBCHAOSZINE–Bulan April 2016 lalu scene hardcore punk di Indonesia menyambut luar biasa atas rilisnya film dokumenter lokal yang berjudul “Ini Scene Kami Juga!”.

Film yang dibuat oleh vokalis band Oath, Hera Mary itu sempat diputar di beberapa kota di pulau Jawa dan mendapat sambutan yang sangat baik.

Intinya, film dokumenter ini ingin mengungkap peran perempuan dalam scene hardcore punk di Indonesia. Semangat kesetaraan gender dalam scene hardcore punk dalam dirasakan telah menjadi motif utama dalam pembuatan film ini.

Namun demikian ada hal-hal yang perlu didiskusikan dan dikritisi dalam film dokumenter ini. Semoga pembuatnya nggak baper, dan terbuka dengan kritikan dalam tulisan ini.

Menurut pengamatan saya, film yang seharusnya dibuat dengan tujuan ingin menunjukkan bagaimana kesetaraan gender diimplementasikan didalam scene hardcore punk di Indonesia malah menjadi bumerang bagi scene itu sendiri. Mengapa, karena justru yang terungkap adalah aib-aib scene hardcore punk Indonesia sendiri yang masih sering memandang perempuan sebelah mata.

Dari pengakuan-pengakuan yang diambil dari wawancara di film tersebut banyak yang secara jujur mengatakan bahwa di scene hardcore punk di Indonesia masih ‘agak’ asing dengan keberadaan perempuan ditengah-tengah mayoritas laki-laki. Bahkan menurut pengakuan nara sumber (yang notabene para pentolan-pentolan scenester perempuan) masih ada aja yang suka memandang mereka sebagai objek seks semata. Bukankah ini aib bagi scenesters laki-laki?

Dan lagi, dari judulnya saja, kalau kita baca lagi, “Ini Scene Kami Juga!” sangatlah berbau “nggak terima” atas dominasi laki-laki didalam scene hardcore punk di Indonesia. Seolah mereka nggak terima kalau scene hardcore punk ini milik laki-laki saja. Padahal benarkah kenyataannya seperti itu? Pernahkah laki-laki melakukan klaim-klaim semacam itu hingga muncul pernyataan scenester perempuan seperti itu? Seolah malah memberikan pengakuan bahwa memang mereka didiskriminasi di dalam scene itu sendiri.

Lucunya lagi, ada juga nara sumber dalam film dokumenter ini yang intinya mengakui bahwa enaknya menjadi perempuan ditengah-tengah scene hardcore punk ini adalah sering merasa aman dan terlindungi oleh teman-teman laki-laki yang ada di scene. Hahaha,… jujur banget, ini beneran polos. Padahal pernyataan itu justru pernyataan yang paling dibenci oleh para feminis. Bagaimana mungkin feminis mau mengaku kalau perempuan itu merasa aman kalau ada laki-laki yang bisa melindungi?? Padahal, dimana-mana, feminis selalu ingin melepaskan ketergantungan dirinya terhadap laki-laki. Sedangkan jawaban tadi benar-benar jujur berasal dari fitrahnya sendiri sebagai perempuan. Hahaha… Akhirnya saya bisa bilang kalau yang bener ya seperti ini. Bahwa kehebatan wanita bukan terletak pada kekuatannya dalam melindungi, tapi pada hal-hal lain yang tidak dimiliki laki-laki. Itu fitrah namanya.

So, jadi, apa sebenernya tujuan dibuatnya film ini? Untuk menunjukkan kegagalan punk dalam menerapkan kesetaraan gender di dalam scene? Atau untuk menyerang kaum laki-laki yang suka mendiskriminasi perempuan di scene? Atau untuk memotivasi para scenester perempuan agar bersemangat melampaui dominasi kaum laki-laki di dalam scene? Atau lainnya?

Apapun tujuannya, yang jelas menurut saya, film dokumenter ini justru membuka aib kegagalan punk dalam menerapkan kesetaraan gender (dalam seluruh bidang) di lingkungannya sendiri. Hehehe.

(cacian, makian, silakan ditulis di kolom komentar 🙂 )

Oleh: Aik